Menunggu Hassan: Penderitaan Para Dokter Gaza yang Ditahan di Israel

Pelajari kisah pilu Dr. Hassan Khalil Almukayed dan dokter-dokter Gaza lainnya yang ditahan di Israel tanpa dakwaan, sementara keluarga mereka menunggu kepulangan mereka.

A
Staff Writer
Diposting pada 15/07/2026 07:59
Menunggu Hassan: Penderitaan Para Dokter Gaza yang Ditahan di Israel

Di tengah bayang-bayang konflik yang terus berlanjut, Dr. Hassan Khalil Almukayed, seorang ahli bedah vaskular yang berdedikasi dari Gaza, tetap berada dalam tahanan Israel tanpa dakwaan. Ditangkap oleh pasukan Israel dari Rumah Sakit Kamal Adwan pada Oktober 2024, ia termasuk di antara setidaknya 15 tenaga medis Palestina yang saat ini ditahan tanpa batas waktu berdasarkan 'Undang-Undang Pejuang Tidak Sah' Israel yang kontroversial.

Sumpah untuk Tetap Tinggal

Dr. Almukayed adalah sosok yang tak terpisahkan di Rumah Sakit Kamal Adwan, dengan teguh menolak untuk meninggalkan pasien dan bayi baru lahir yang berada dalam perawatannya bahkan ketika operasi militer Israel meningkat di Gaza utara. Istrinya, Nadia, menceritakan hari-hari terakhir mereka bersama, yang ditandai dengan komitmen pada sumpah kedokteran meskipun situasi keamanan memburuk.

Ketika rumah sakit akhirnya dikuasai, militer meyakinkan staf medis bahwa mereka akan diselamatkan, hanya untuk kemudian menahan mereka tak lama setelah itu.

Realitas Penahanan Tanpa Batas Waktu

Hampir 21 bulan telah berlalu sejak penculikan Dr. Almukayed. Awalnya ditahan di fasilitas penahanan Sde Teiman yang terkenal kejam, ia kemudian dipindahkan ke Penjara Ktziot. Keluarganya dan perwakilan hukum dari Physicians for Human Rights-Israel (PHRI) menggambarkan gambaran mengerikan tentang masa penahanannya. Laporan tentang pengabaian yang parah, kurangnya perawatan medis untuk kondisi kronisnya, kelaparan, dan pelecehan fisik telah muncul melalui kunjungan hukum yang terbatas. Terlepas dari kecaman internasional, termasuk seruan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membebaskan rekan-rekan seperti Dr. Hussam Abu Safia, siklus penahanan tetap berlanjut.

Keluarga dalam Ketidakpastian

Bagi istrinya, Nadia, dan ketiga anak mereka, kehidupan telah direduksi menjadi bertahan hidup di tenda di al-Mawasi. Mereka bertahan hidup tanpa pencari nafkah, dihantui oleh berita kematian ayahnya—sebuah tragedi yang disebabkan oleh kesedihan kehilangan putra-putranya karena penahanan dan kondisi keras konflik. Dr. Almukayed tetap tidak menyadari bahwa ayahnya telah meninggal dunia, karena takut keluarganya akan membahayakan kondisi psikologisnya yang rapuh.

Warisan Pengabdian

Dikenal di kamp pengungsi Jabalia sebagai 'dokter' yang menawarkan perawatan medis gratis di klinik rumahnya, ketidakhadiran Dr. Almukayed sangat dirasakan oleh masyarakat. Sementara para pembela terus mendorong upaya hukum, kasus Dr. Almukayed menjadi cerminan suram dari penargetan infrastruktur perawatan kesehatan yang lebih luas dan penahanan sistematis staf medis selama perang di Gaza.

Sumber: www.aljazeera.com

Artikel Terkait