Banjir Bandang Musim Hujan Dahsyat Melanda Afghanistan: Setidaknya 20 Tewas di Nuristan
Sedikitnya 20 orang tewas dan puluhan lainnya hilang akibat banjir bandang yang dipicu oleh musim hujan yang menghancurkan provinsi Nuristan di Afghanistan. Temukan dampak perubahan iklim di wilayah tersebut.

Banjir Dahsyat di Provinsi Nuristan
Afghanistan dilanda serangkaian banjir bandang dahsyat yang dipicu oleh monsun, yang meninggalkan jejak kehancuran di seluruh wilayah timur. Menurut Otoritas Manajemen Bencana Nasional Afghanistan (ANDMA), setidaknya 20 orang telah dipastikan tewas, dengan lebih dari 80 lainnya terluka. Dampak terberat bencana dirasakan di provinsi Nuristan, di mana hujan deras memicu gelombang air dan puing-puing secara tiba-tiba.
Ibu kota provinsi, Parun, mengalami kerusakan yang sangat besar. Laporan lokal menunjukkan bahwa banjir benar-benar menghancurkan infrastruktur kota, menghancurkan kotamadya, banyak hotel, dan puluhan toko komersial. Kekuatan air sangat ekstrem sehingga batu-batu besar tersapu ke pusat kota, membuat penduduk harus mencari korban selamat di antara reruntuhan tanpa bantuan alat berat profesional.
Upaya Pencarian dan Penyelamatan Mendesak
Tim penyelamat saat ini berpacu dengan waktu untuk mencapai daerah-daerah yang paling terdampak di Nuristan.
Kantor gubernur telah mengkonfirmasi bahwa tragedi tersebut meluas melampaui jumlah korban jiwa, dengan beberapa pejabat tinggi, termasuk walikota Parun dan berbagai karyawan regional, masih dilaporkan hilang. LSM lokal, seperti Shpoul, menggambarkan kejadian tersebut sebagai runtuhnya infrastruktur perkotaan secara total, mendesak dukungan internasional dan nasional segera untuk membantu upaya pemulihan.Krisis Regional: Asia Selatan Terkepung
Bencana di Afghanistan bukanlah insiden terisolasi tetapi bagian dari musim hujan yang lebih luas dan kacau yang melanda Asia Selatan sejak Juni.
Negara-negara tetangga menghadapi serangan iklim serupa:- India: Banjir bandang dan tanah longsor baru-baru ini di wilayah utara dan timur laut telah menelan korban jiwa setidaknya 25 orang.
- Nepal: Sejak pertengahan Juni, banjir, tanah longsor, dan sambaran petir yang terkait dengan monsun telah menewaskan 27 orang dan melukai 69 orang.
Hubungan dengan Perubahan Iklim dan Risiko Kemanusiaan
Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa frekuensi dan intensitas banjir bandang ini bukan lagi sekadar anomali musiman.
Mawlawi Matiul Haq Khalis, kepala badan perlindungan lingkungan Afghanistan, secara eksplisit memperingatkan bahwa degradasi lingkungan dan perubahan iklim memperburuk bencana-bencana ini.Bagi negara yang sudah bergulat dengan ketidakstabilan politik dan kesulitan ekonomi, guncangan iklim yang berulang ini mengubah masalah lingkungan menjadi krisis kemanusiaan skala penuh. Kurangnya infrastruktur yang tangguh membuat penduduk sangat rentan terhadap dampak buruk banjir mendadak, yang menyebabkan hilangnya banyak nyawa dan hilangnya mata pencaharian lokal secara total.