Square Enix kembali memicu kecaman dengan memperdalam kemitraan Dragon Quest dengan Google AI.

Square Enix kembali menghadapi kecaman setelah memperluas kemitraan berbasis AI dengan Google untuk acara Dragon Quest baru di Tokyo, mengabaikan kritik penggemar sebelumnya.

A
Staff Writer
Diposting pada 29/07/2026 11:25
Square Enix kembali memicu kecaman dengan memperdalam kemitraan Dragon Quest dengan Google AI.

Square Enix sekali lagi menjadi pusat kontroversi panas di komunitas game, karena semakin mengintegrasikan AI generatif ke dalam franchise Dragon Quest yang ikonik. Terlepas dari kritik luas dari penggemar awal tahun ini mengenai penggunaan teknologi dalam seri RPG kesayangan mereka, penerbit Jepang ini telah mengumumkan inisiatif baru, 'Gemini Quest', bekerja sama dengan Google.

Inisiatif 'Gemini Quest'

Acara 'Gemini Quest' yang akan diluncurkan pada 30 Juli di Tokyo ini memanfaatkan AI Gemini milik Google untuk menciptakan pengalaman augmented reality interaktif. Peserta diundang untuk menggunakan aplikasi Gemini untuk memindai barcode di beberapa distrik Tokyo. Proses ini menghasilkan mantra magis dalam AR, yang kemudian dapat digunakan pemain untuk mengalahkan monster dan menantang Raja Naga. Peserta yang berhasil akan diberi hadiah berupa medali mini eksklusif yang menampilkan makhluk legendaris dari seri tersebut.

Meskipun ambisi teknisnya jelas, implementasinya telah membuat banyak pengikut lama merasa tidak nyaman.

Pola Integrasi yang Kontroversial

Pengumuman terbaru ini menyusul serangkaian keputusan kontroversial mengenai arah merek Dragon Quest. Pada bulan Mei, peluncuran 'Dragon Quest 12: Beyond Dreams' menuai reaksi beragam dari komunitas. Sebelumnya, pada bulan Maret, pengenalan 'Oshaberi Slimey'—karakter dalam Dragon Quest 10 yang didukung oleh AI generatif Google dan dirancang untuk berfungsi sebagai pendamping AI bagi pemain—memicu perdebatan sengit tentang peran otomatisasi dalam pengalaman bermain game tradisional.

Reaksi Negatif Penggemar dan Kekhawatiran di Masa Depan

Platform media sosial telah dibanjiri dengan umpan balik negatif dari pemain yang merasa bahwa integrasi AI bertentangan dengan jiwa waralaba. Komentar berkisar dari ekspresi ketidaknyamanan sederhana hingga tuntutan tajam agar tim pengembang mengalihkan sumber dayanya untuk menyelesaikan judul-judul besar seperti Dragon Quest 12 alih-alih berfokus pada gimmick promosi berbasis AI.

Seiring Square Enix terus mengejar kemitraan yang sarat teknologi ini, basis penggemar inti tetap skeptis tentang masa depan seri ini, mempertanyakan apakah inovasi-inovasi ini menambah nilai atau hanya berfungsi sebagai alat pemasaran yang memecah belah.

Artikel Terkait