Perdana Menteri Burnham Membatalkan Skema 'BritCard', Memicu Debat Nasional

Perdana Menteri Andy Burnham telah membatalkan skema identitas digital 'BritCard' Inggris. Temukan implikasi dari perubahan kebijakan ini terhadap inklusi digital dan kebebasan sipil.

A
Staff Writer
Diposting pada 20/07/2026 14:06
Perdana Menteri Burnham Membatalkan Skema 'BritCard', Memicu Debat Nasional

Dalam perubahan kebijakan besar pertamanya sejak menjabat pada 20 Juli 2026, Perdana Menteri Inggris yang baru dilantik, Andy Burnham, telah mengumumkan pembatalan segera proyek identifikasi digital kontroversial pemerintah, 'BritCard'. Keputusan ini menandai pembalikan signifikan dari inisiatif kebijakan unggulan yang diperkenalkan oleh pendahulunya, Keir Starmer.

Akhir Era 'BritCard'

Skema identitas digital yang diusulkan, yang diresmikan September lalu, dimaksudkan untuk berfungsi sebagai kredensial universal yang didukung pemerintah. Awalnya dipasarkan sebagai persyaratan wajib untuk pemeriksaan hak kerja, proyek ini menghadapi reaksi publik yang langsung dan intens. Petisi parlemen bersejarah membuat hampir tiga juta warga menyatakan penentangan mereka, memaksa pemerintahan sebelumnya untuk beralih ke sistem sukarela pada bulan Januari.

Namun, kekhawatiran mengenai privasi data dan potensi 'perluasan fungsi'—di mana ID tersebut dapat meluas ke sektor perawatan kesehatan, perbankan, dan perjalanan—tetap ada.

Implikasi Keuangan dan Politik

Kantor Burnham mengkonfirmasi bahwa pemerintah akan membatalkan program tersebut, yang secara efektif menghemat sekitar $2,4 miliar dalam pengeluaran yang direncanakan selama tiga tahun ke depan. Modal yang dialihkan ini direncanakan akan disalurkan ke dukungan biaya hidup, sebuah langkah yang diharapkan pemerintah akan menstabilkan posisi politiknya. Menariknya, langkah ini menggemakan keputusan tahun 2010 oleh pemerintah sebelumnya untuk membatalkan inisiatif kartu identitas serupa, sebuah proyek di mana Burnham terlibat selama masa jabatannya sebagai menteri Kementerian Dalam Negeri.

Kesenjangan Inklusi Digital

Bagi organisasi seperti Digital Poverty Alliance, perubahan haluan ini merupakan kemenangan bagi jutaan warga Inggris yang menghadapi hambatan akses digital. CEO Elizabeth Anderson menyoroti bahwa 19 juta orang dewasa di Inggris menderita pengucilan digital karena kurangnya keterampilan atau perangkat keras.

Para kritikus 'BritCard' berpendapat bahwa mewajibkan identitas digital akan secara tidak proporsional meminggirkan populasi yang paling rentan yang kesulitan dengan layanan pemerintah daring yang ada.

Respons yang Beragam

Sementara para pendukung privasi merayakan berakhirnya sistem yang dikhawatirkan banyak orang akan menyebabkan pengawasan pemerintah yang invasif, pemangku kepentingan lainnya menyatakan kekecewaan yang mendalam. Lembaga think tank dan pendukung kebijakan tersebut berpendapat bahwa sistem identitas digital yang kuat sangat penting untuk memodernisasi infrastruktur publik dan mencegah penipuan identitas. Para pendukung seperti lembaga think tank Labour Together berpendapat bahwa sistem seperti itu adalah satu-satunya jalan yang layak untuk mengakhiri pengucilan identitas bagi kelompok-kelompok yang terpinggirkan dan mencegah kegagalan administrasi seperti skandal Windrush.

Seiring berjalannya pemerintahan baru, fokus telah bergeser dari transformasi pemerintah berteknologi tinggi kembali ke penyediaan layanan dasar dan kesejahteraan sosial segera, sehingga masa depan strategi digital Inggris berada dalam keadaan ketidakpastian.

Sumber: www.aljazeera.com

Artikel Terkait