Pemimpin Tertinggi Iran Menyerukan 'Persatuan Suci' di Tengah Pergolakan Politik Internal dan Konflik dengan AS

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyerukan persatuan nasional di tengah meningkatnya ketegangan politik internal dan konflik militer yang sedang berlangsung dengan AS hingga mencapai titik didih.

A
Staff Writer
Diposting pada 20/07/2026 13:36
Pemimpin Tertinggi Iran Menyerukan 'Persatuan Suci' di Tengah Pergolakan Politik Internal dan Konflik dengan AS

Saat konflik antara Iran dan Amerika Serikat memasuki fase baru yang bergejolak, Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei telah mengeluarkan seruan tegas untuk kohesi nasional. Di tengah delapan malam berturut-turut pertukaran militer yang intens, pemimpin Iran tersebut menekankan bahwa menjaga 'persatuan suci' adalah keharusan mendasar untuk kelangsungan hidup negara, mendesak para pejabat dan masyarakat untuk mengesampingkan perpecahan politik internal.

Front yang Terpecah

Seruan untuk persatuan ini menyusul meningkatnya gesekan dalam lanskap politik Iran selama beberapa minggu terakhir. Awal tahun ini, nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani dengan AS memicu reaksi keras di antara faksi-faksi garis keras pemerintah. Para kritikus, termasuk anggota parlemen yang vokal dan demonstran jalanan, bahkan sampai menyebut penanganan administratif perjanjian tersebut sebagai 'pengkhianatan.' Kontroversi tersebut semakin diperparah ketika materi rahasia dibocorkan di televisi langsung oleh para penentang yang bertujuan untuk mendiskreditkan proses negosiasi.

Menentang Tekanan Eksternal

Dalam arahan terbarunya, Khamenei menekankan bahwa musuh-musuh Iran—khususnya AS dan Israel—tidak boleh diberi alasan untuk menganggap adanya kelemahan internal. Meskipun mengakui bahwa ia secara pribadi memiliki keberatan mengenai MoU yang sekarang ditangguhkan, ia menggarisbawahi bahwa adalah tugas semua lembaga, termasuk peradilan dan parlemen, untuk mendukung pemerintah selama 'titik balik bersejarah' ini.

Respons Militer dan Diplomatik

Menanggapi arahan Pemimpin Tertinggi, para pemimpin militer dan politik Iran telah berjanji untuk menampilkan front persatuan.

Ali Abdollahi, kepala komando gabungan masa perang, menegaskan kembali bahwa angkatan bersenjata berkomitmen pada kohesi nasional, bahkan ketika mereka bersiap untuk 'respons yang tegas dan destruktif' terhadap serangan AS yang terus berlanjut yang telah menargetkan infrastruktur Iran, termasuk pabrik petrokimia dan sistem transportasi.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi terus mempertahankan bahwa penyelesaian konflik melalui negosiasi tetap menjadi jalan yang lebih disukai, bahkan ketika serangan balasan di Selat Hormuz menunjukkan sedikit tanda mereda. Saat Iran menghadapi tantangan multi-front ini, fokus kepemimpinan tetap tertuju pada pencegahan pertikaian politik agar tidak mengganggu strategi pertahanan dan diplomatik yang lebih luas.

Sumber: www.aljazeera.com

Artikel Terkait