Pasar Minyak Global Terguncang Akibat Eskalasi Konflik AS dan Iran Terkait Selat Hormuz
Harga minyak melonjak karena AS dan Iran saling melancarkan serangan militer terkait perebutan kendali Selat Hormuz, yang mengancam pelayaran global dan meng destabilisasi pasar Asia.

Ketegangan Geopolitik Memicu Pasar Energi
Harga minyak global melonjak setelah peningkatan kekerasan dalam permusuhan antara Amerika Serikat dan Iran. Titik api utama tetaplah Selat Hormuz, jalur air sempit namun penting yang berfungsi sebagai titik transit minyak terpenting di dunia. Minyak mentah Brent, patokan internasional untuk harga minyak, naik lebih dari 4 persen pada hari Senin, mencerminkan kecemasan investor atas potensi gangguan pasokan energi yang berkepanjangan.
Pada pukul 03:00 GMT, harga berjangka Brent untuk pengiriman September mencapai $79,17 per barel, menandai titik harga tertinggi sejak akhir Juni. Lonjakan mendadak ini terjadi ketika Washington dan Teheran saling melancarkan serangan militer, yang secara efektif membongkar perjanjian perdamaian rapuh yang baru dibuat beberapa minggu sebelumnya.
Eskalasi Militer dan Perebutan Navigasi
Krisis saat ini mencapai titik didih setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan serangkaian manuver agresif oleh pasukan Iran.
Militer AS melancarkan serangkaian serangan yang bertujuan untuk "melemahkan" kemampuan militer Iran, khususnya menargetkan infrastruktur yang digunakan untuk mengancam pelayaran komersial. Tanggapan ini menyusul tuduhan bahwa pasukan Iran "secara terang-terangan" menyerang MV GFS Galaxy, sebuah kapal kontainer berbendera Siprus yang melintasi selat tersebut.Dalam pernyataan tegas, CENTCOM menekankan bahwa Selat Hormuz adalah koridor vital untuk perdagangan global dan menegaskan bahwa Iran tidak memiliki kendali kedaulatan atasnya. "Pasukan AS siap dan siaga untuk memastikan bahwa kebebasan navigasi tetap tersedia bagi pelayaran komersial meskipun agresi Iran yang tidak beralasan terus berlanjut," kata komando tersebut.
Teheran menanggapi dengan kampanye pembalasan besar-besaran, meluncurkan rentetan rudal dan drone yang menargetkan beberapa negara Teluk tetangga, termasuk Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain. Bersamaan dengan itu, Otoritas Selat Teluk Persia Iran memperingatkan bahwa kapal mana pun yang menolak untuk mengikuti "rute pilihan" akan kehilangan jaminan jalur aman, menempatkan risiko hukum dan fisik sepenuhnya pada pemilik dan komandan kapal.
Penurunan Drastis dalam Lalu Lintas Maritim
Dampaknya terhadap perdagangan global sangat cepat dan parah. Data dari platform intelijen maritim Windward mengungkapkan penurunan yang mengejutkan dalam pergerakan kapal. Sebelum konflik meletus, sekitar 130 kapal melintasi selat setiap hari—mewakili seperlima dari total perdagangan minyak dunia. Sebaliknya, pelacakan terbaru menunjukkan hanya segelintir kapal yang berani menyeberang.
Antara Kamis malam dan Jumat pagi, hanya enam kapal yang terlacak melintasi selat, dibandingkan dengan 18-22 penyeberangan harian yang terlihat sebelumnya di bulan ini.
Penurunan tajam lalu lintas ini menggarisbawahi risiko tinggi yang saat ini terkait dengan wilayah tersebut, karena perusahaan pelayaran menghindari daerah tersebut untuk mencegah penyitaan atau serangan.Analisis Pakar: Akankah Harga Terus Naik?
Analis pasar terbagi pendapat mengenai apakah ini akan menyebabkan ledakan harga jangka panjang. Mukesh Sahdev, pendiri XAnalysts, memperkirakan bahwa Brent kemungkinan akan berfluktuasi di kisaran $70-an ke atas sepanjang Agustus dan September. Ia mencatat bahwa meskipun ketidakpastian geopolitik menyebabkan lonjakan harga, banyak kilang minyak telah menggeser strategi pengadaan mereka untuk mengurangi ketergantungan pada minyak mentah Timur Tengah.
Demikian pula, Fabien Yip dari IG mencatat bahwa meskipun "premi risiko" saat ini mendukung harga, pengulangan lonjakan ekstrem yang terlihat sebelumnya dalam perang ini tidak mungkin terjadi.
Hal ini disebabkan oleh lambatnya pemulihan permintaan global dan kelebihan pasokan minyak yang lebih luas akibat perluasan kuota produksi OPEC+.Dampak Ekonomi Global
Ketidakstabilan di Timur Tengah tidak hanya memengaruhi minyak tetapi juga mengirimkan gelombang kejut ke pasar keuangan internasional. Indeks saham utama Asia anjlok pada hari Senin sebagai respons terhadap berita tersebut. Nikkei 225 Jepang turun lebih dari 1 persen, sementara Kospi Korea Selatan mengalami penurunan tajam lebih dari 5 persen, yang menyoroti keterkaitan yang mendalam antara keamanan Timur Tengah dan stabilitas ekonomi global.