Pasar Minyak Global Mengalami Reli Seiring Eskalasi Konflik AS-Iran di Selat Hormuz

Harga minyak mentah Brent mendekati $85 per barel karena eskalasi militer AS-Iran mengancam jalur pasokan minyak di Selat Hormuz yang sangat penting.

A
Staff Writer
Diposting pada 14/07/2026 03:54
Pasar Minyak Global Mengalami Reli Seiring Eskalasi Konflik AS-Iran di Selat Hormuz

Pasar energi global mengalami gejolak signifikan karena permusuhan militer yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu lonjakan tajam harga minyak, mencapai level tertinggi dalam satu bulan. Dengan harga minyak mentah Brent yang mendekati angka $85 per barel, komunitas internasional memantau dengan cermat meningkatnya ketidakstabilan di Selat Hormuz yang vital.

Permusuhan yang Kembali Memanas dan Dampaknya terhadap Pasar

Lonjakan baru-baru ini, yang ditandai dengan peningkatan harian sebesar 2 persen setelah lonjakan besar sebesar 9,6 persen, menggarisbawahi kerapuhan pasar. Sejak dimulainya perang AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari, harga telah naik sekitar 17 persen.

Para analis berpendapat bahwa perdamaian rapuh yang dicapai melalui nota kesepahaman (MoU) bulan lalu telah sepenuhnya hancur, mengembalikan kawasan tersebut ke keadaan volatilitas intensitas tinggi.

Titik Strategis yang Terancam

Selat Hormuz, yang menangani sebagian besar pasokan minyak dunia setiap hari, saat ini mengalami penurunan drastis dalam lalu lintas maritim. Data dari MarineTraffic menunjukkan penurunan lebih dari 50 persen dalam transit kapal antara Jumat dan Minggu dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Para pengamat memperingatkan bahwa penipisan cadangan minyak strategis, yang sebelumnya berfungsi sebagai penyangga penting, membuat ekonomi global sangat rentan terhadap guncangan rantai pasokan lebih lanjut.

Retorika yang Meningkat dan Pengerahan Militer

Menambah ketidakpastian, pemerintahan Trump telah menyatakan niatnya untuk memberlakukan kembali blokade di pelabuhan Iran dan memberlakukan biaya transit untuk kapal yang melewati jalur air tersebut.

Meskipun Departemen Energi AS menyatakan bahwa dukungan militer menjaga aliran minyak tetap stabil di sekitar 8,5 juta barel per hari, para ahli pasar tetap skeptis. Analis industri, termasuk dari TD Securities, sudah memperkirakan potensi harga minyak mencapai angka $100 jika konflik tersebut mengakibatkan kekurangan pasokan fisik yang nyata dan jangka panjang. Seiring meningkatnya retorika antara Washington dan Teheran, prospek keamanan energi global tetap suram, dengan para pedagang bersiap menghadapi periode ketidakstabilan yang berkepanjangan.
Sumber: www.aljazeera.com

Artikel Terkait