Menembus Batas: Djed Spence Mencetak Sejarah sebagai Pemain Muslim Pertama Inggris di Piala Dunia

Djed Spence mencetak sejarah sebagai pemain Muslim pertama yang mewakili Inggris di Piala Dunia FIFA 2026, memicu percakapan tentang representasi, keyakinan, dan inklusi dalam sepak bola.

A
Staff Writer
Diposting pada 15/07/2026 11:56
Menembus Batas: Djed Spence Mencetak Sejarah sebagai Pemain Muslim Pertama Inggris di Piala Dunia

Momen Bersejarah di Panggung Global

Dalam sebuah adegan mengharukan yang melampaui olahraga sepak bola, Djed Spence, bek berusia 25 tahun dari tim nasional Inggris, berlutut di lapangan Stadion Miami pada 11 Juli 2026. Mengangkat tangannya sebagai isyarat syukur dan doa setelah kemenangan Inggris atas Norwegia di perempat final Piala Dunia, Spence menjadi pemain Muslim pertama yang mengenakan jersey Three Lions di Piala Dunia FIFA. Kemenangan itu tidak hanya mengamankan tempat Inggris di semifinal melawan rival bersejarah mereka, Argentina, tetapi juga menandai tonggak budaya bagi jutaan penggemar di seluruh Inggris Raya dan komunitas Muslim global.

Di Luar Permainan: Sebuah Mercusuar Inspirasi

Bagi Spence, pencapaian ini adalah puncak dari mimpi seumur hidup. Merefleksikan perjalanannya, bek tersebut menekankan bahwa dampak kehadirannya pada tim jauh melampaui performa individunya.

“Menjadi pemain Muslim pertama yang mewakili Three Lions, itu berarti segalanya,” kata Spence. “Yang membuat saya bahagia adalah banyak anak-anak dapat melihatnya dan terinspirasi. Saya merasa ini lebih besar dari diri saya dan ini bagus untuk generasi mendatang.”

Perjalanannya menuju Piala Dunia tidak tanpa kesulitan. Pada Mei 2026, Spence mengalami patah rahang saat pertandingan melawan Chelsea, yang memaksanya bermain di turnamen tersebut dengan mengenakan masker pelindung serat karbon. Ketangguhannya—beralih dari pemain pengganti menjadi aset pertahanan kunci—telah mencerminkan terobosan simbolis yang diwakilinya untuk representasi dalam sepak bola Inggris.

Perjalanan Panjang Menuju Representasi

Meskipun negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Spanyol telah mengintegrasikan pemain internasional Muslim ke dalam skuad mereka selama beberapa dekade, tonggak sejarah Inggris ini terasa sudah lama ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Bagi penggemar seperti Zain Gondal yang berusia 23 tahun, kehadiran Spence memberikan rasa visibilitas yang langka.

“Ketika saya mengetahui dia seorang Muslim, saya malah semakin menyukainya,” kata Gondal, seraya menambahkan bahwa melihat pemain yang memiliki keyakinan yang sama dengannya memungkinkannya untuk “melihat sedikit diri sendiri dalam diri mereka.”

Riz Rehman, mantan pemain sepak bola dan mentor yang menghabiskan 15 tahun bersama Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional (PFA), menyoroti kerja sistemik yang diperlukan untuk mencapai momen ini. Rehman memainkan peran penting dalam mendirikan ruang sholat dan pendidikan Ramadan untuk para atlet, memastikan bahwa pemain seperti Spence memiliki dukungan kelembagaan yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan iman dan olahraga profesional. Rehman, yang menjadi mentor Spence setelah yang terakhir masuk Islam beberapa tahun yang lalu, menggambarkannya sebagai panutan yang karakternya berfungsi sebagai jembatan bagi orang lain.

Menavigasi Harapan dan Permusuhan

Terlepas dari perayaan tersebut, tonggak sejarah ini dilihat melalui lensa yang kompleks. Shabna Zaheer, pendiri 'The Scene'—sebuah kolektif yang menyediakan ruang menonton inklusif dan bebas alkohol—menyampaikan campuran kebanggaan dan kekhawatiran.

“Kami belum pernah melihat pesepakbola Inggris melakukan itu [melakukan salat Muslim],” katanya, sambil mengakui kekhawatiran tentang bagaimana media dan publik mungkin bereaksi. Kekhawatirannya berakar pada realitas media sosial, di mana acara yang mempromosikan ruang inklusif sering kali disambut dengan tuntutan untuk "integrasi" dan komentar xenofobia.

Sentimen ini digaungkan oleh Daniel Bennett, direktur kreatif The Scene, yang mengingat pelecehan rasis yang ditujukan kepada Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Bukayo Saka setelah final Euro 2020. Meskipun Bennett percaya bahwa representasi itu penting, ia memperingatkan bahwa perjalanan seorang pemain tunggal tidak dapat menghapus masalah sistemik yang mengakar. Demikian pula, penggemar Zain Gondal berpendapat bahwa meskipun sepak bola menyediakan platform, tanggung jawab untuk meningkatkan pandangan masyarakat terhadap minoritas terletak pada politisi daripada atlet.

Menantang Bias di Tingkat Akar Rumput

Percakapan seputar kebangkitan Spence juga menyoroti tantangan yang dihadapi di tingkat pemuda.

Mark Overall, seorang pencari bakat dan pelatih penjaga gawang, menyoroti bias yang terus-menerus terjadi dalam identifikasi bakat. Overall mengenang saat melatih pemain muda di Southall yang berlatih keras selama Ramadan, menunjukkan etos kerja yang luar biasa, namun ia mencatat bahwa beberapa pencari bakat yang lebih tua masih menyimpan prasangka, seringkali lebih menyukai pemain kulit putih dan Kristen daripada kandidat dari latar belakang Asia atau Muslim.

Namun, kesuksesan Spence menjadi narasi tandingan yang kuat terhadap bias-bias ini. Dengan berprestasi di panggung terbesar dunia, ia membuktikan bahwa iman dan ambisi bukanlah hal yang saling bertentangan, tetapi justru dapat saling melengkapi. Saat Inggris bersiap untuk pertandingan penting melawan Argentina, Djed Spence tidak hanya berdiri sebagai pembela gawang, tetapi juga sebagai pelopor era olahraga Inggris yang lebih inklusif.

Sumber: www.aljazeera.com

Artikel Terkait