Kebangkitan Irama Lokal: Bagaimana Musik Pop Asia Tenggara Menantang Dominasi K-Pop

Temukan bagaimana artis-artis lokal Asia Tenggara mentransformasi industri musik, popularitas mereka meningkat dan menantang dominasi K-pop yang telah lama berkuasa di kawasan ini.

A
Staff Writer
Diposting pada 01/07/2026 02:36
Kebangkitan Irama Lokal: Bagaimana Musik Pop Asia Tenggara Menantang Dominasi K-Pop

Sebuah revolusi senyap sedang melanda headphone dan speaker di seluruh Asia Tenggara. Selama bertahun-tahun, lanskap musik regional didominasi oleh lagu-lagu hits Barat dan estetika K-pop yang dipoles dan berproduksi tinggi. Namun, pergeseran besar telah terjadi, dengan talenta lokal semakin merebut hati—dan daftar putar—pendengar lokal.

Pergeseran Loyalitas Musik

Penggemar musik seperti Jaycer Bajo, seorang pekerja call center dari Filipina, mewakili tren yang lebih luas. Sebelumnya terikat pada lagu-lagu hits global, pendengar sekarang beralih ke grup 'Pinoy Pop' (P-pop) seperti BINI, ALAMAT, dan BGYO. Perubahan ini bukan sekadar anekdot; data mendukungnya.

Antara tahun 2021 dan 2026, representasi artis lokal dalam 10 besar mingguan di Spotify di Indonesia, Filipina, dan Thailand telah mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, dalam beberapa kasus melonjak dari kurang dari 40 persen menjadi hampir 100 persen.

Pengaruh K-Pop: Struktur Pinjaman, Jiwa Lokal

Meskipun artis Asia Tenggara telah menguasai koreografi dan kualitas produksi yang canggih yang terkait dengan K-pop, mereka memasukkan kerangka kerja ini dengan identitas lokal yang berbeda. Produser Thailand Cod Satrusayang mencatat bahwa kawasan ini telah melampaui sekadar imitasi. Artis seperti MILLI dan YOUNGOHM menciptakan suara yang terasa otentik bagi warisan mereka, memadukan kepekaan pop modern dengan bahasa lokal dan motif budaya.

K-pop secara efektif membuka jalan dengan membuktikan bahwa musik Asia dapat menjadi produk komersial yang besar dan dapat diekspor, dan para kreator Asia Tenggara kini memanfaatkan momentum tersebut untuk menceritakan kisah mereka sendiri.

Kebangkitan Digital dan Pertumbuhan Ekonomi

Media sosial telah menjadi mesin utama pertumbuhan ini. Platform seperti TikTok dan Instagram memungkinkan band untuk mempertahankan dialog yang hampir konstan dengan penggemar, mencerminkan aksesibilitas idola K-pop sambil tetap berakar pada bahasa lokal. Lebih lanjut, peningkatan ekonomi negara-negara ini—dengan banyak yang bergerak ke kelompok pendapatan menengah ke atas—telah meningkatkan investasi dalam ekonomi kreatif regional. Pendapatan musik digital telah berlipat ganda di negara-negara seperti Filipina dan Thailand selama lima tahun terakhir, menandakan pasar yang matang yang siap bersaing di panggung dunia.

Pengecualian Regional dan Keselarasan Budaya

Meskipun Singapura dan Malaysia tetap lebih terikat pada tren global dan K-pop, mereka semakin menjadi pusat konsumsi musik regional.

Keterkaitan budaya lintas batas, khususnya antara Indonesia dan Malaysia, telah membuat para seniman Indonesia meraih kesuksesan besar di pasar negara tetangga. Solidaritas regional ini menumbuhkan rasa bangga dan keterhubungan, seperti yang terlihat pada grup seperti No Na, yang menggabungkan suara tradisional seperti gamelan untuk beresonansi dengan pendengar di seluruh diaspora.
Sumber: www.aljazeera.com

Artikel Terkait