Kambing Hitam Presiden: Bagaimana Elite Penguasa Iran Memposisikan Pezeshkian untuk Kejatuhan MoU AS
Analisislah bagaimana elite penguasa Iran menggunakan Presiden Masoud Pezeshkian sebagai kambing hitam atas kegagalan Nota Kesepahaman AS-Iran dan perebutan kekuasaan internal di dalam IRGC.

Kedamaian Rapuh di Ambang Kehancuran
Lanskap geopolitik Timur Tengah kembali bergejolak seiring meningkatnya kampanye militer yang dipimpin AS terhadap Iran. Serangan baru-baru ini oleh Amerika Serikat telah mengakibatkan setidaknya 18 korban jiwa dan puluhan luka-luka, yang membayangi proses perdamaian yang rapuh. Inti dari ketegangan ini adalah Nota Kesepahaman (MoU), kerangka kerja penting yang ditandatangani antara Washington dan Teheran yang dimaksudkan untuk membuka jalan bagi stabilitas jangka panjang. Namun, ketika perjanjian tersebut berada di ambang kehancuran, permainan politik internal yang canggih sedang berlangsung di dalam lingkaran kekuasaan di Teheran.
Arsitektur Tuduhan yang Direncanakan
Setelah meningkatnya kekerasan, kepemimpinan Iran telah memulai pengalihan strategis kemarahan publik dan institusional. Meskipun MoU merupakan keputusan kolektif negara, retorika resmi semakin mengisolasi Presiden Masoud Pezeshkian sebagai arsitek utama kegagalan tersebut.
Ini bukanlah kejadian acak, melainkan 'permainan saling menyalahkan' yang diperhitungkan untuk melindungi para makelar kekuasaan sejati rezim.Cetakan strategi ini telah dijelaskan oleh Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei. Dalam pernyataan publik, Pemimpin Tertinggi mencatat bahwa ia memiliki "pandangan berbeda" tentang perjanjian tersebut, mengklaim bahwa ia hanya mengizinkan kesepakatan itu karena Presiden Pezeshkian, dalam kapasitasnya sebagai kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, telah "secara eksplisit menerima tanggung jawab" atasnya. Dengan membingkai MoU sebagai komitmen pribadi oleh Presiden, Pemimpin Tertinggi secara efektif telah menciptakan tembok pembatas politik antara kantor kepresidenan dan inti kepemimpinan revolusioner.
Tangan Tersembunyi: Ghalibaf dan Kompleks Militer-Bonyad
Detail yang mencolok dalam narasi ini adalah ketidakhadiran Mohammad Bagher Ghalibaf. Sebagai ketua parlemen dan kepala tim negosiasi yang sebenarnya, Ghalibaf adalah penggerak utama kesepakatan tersebut.
Meskipun Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa 'nezam' (sistem) mempercayakan negosiasi kepada Ghalibaf, namanya tidak ada dalam daftar pihak yang bertanggung jawab menurut Pemimpin Tertinggi.Kelalaian ini menyoroti dominasi 'kompleks militer-bonyad'—perpaduan kuat antara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pasukan keamanan negara, dan yayasan keagamaan besar (bonyad) seperti Yayasan Mostazafan. Jaringan ini mengendalikan sebagian besar perekonomian Iran dan beroperasi hampir tanpa pengawasan sipil.
Di dalam kompleks ini, telah muncul keretakan struktural yang dalam:- Sayap Teknokratis: Dipimpin oleh Ghalibaf, faksi ini berpendapat bahwa pemulihan ekonomi dan integrasi dengan modal global sangat penting untuk kelangsungan rezim.
- Sayap Ideologis: Diwakili oleh Front Paydari, kelompok ini memandang setiap konsesi kepada AS sebagai pengkhianatan dan menganggap investasi asing—khususnya Dana Rekonstruksi dan Pembangunan senilai $300 miliar yang diusulkan—sebagai kuda Troya untuk penetrasi Barat.
Kepresidenan sebagai 'Pemutus Sirkuit'
Naiknya Presiden Pezeshkian ke tampuk kekuasaan pada tahun 2024 tidak didasarkan pada kekuatan politiknya, tetapi pada kurangnya kekuatan politiknya.
Tidak seperti para pendahulunya—seperti Rafsanjani atau Rouhani, yang memiliki jaringan independen yang kuat—Pezeshkian diangkat sebagai sosok yang mudah dikelola dan moderat untuk menenangkan publik yang gelisah tanpa mengancam otoritas kompleks militer-bonyad.Pada intinya, jabatan presiden Iran telah dirancang ulang sebagai 'pemutus sirkuit' politik. Ini adalah jabatan yang dipasang untuk menyerap gelombang kemarahan publik dan kegagalan politik jika suatu kebijakan gagal, sementara diabaikan sepenuhnya jika kebijakan tersebut berhasil. Pezeshkian adalah penandatangan ideal untuk risiko yang tidak ia rancang, berfungsi sebagai penyangga bagi IRGC dan Pemimpin Tertinggi.
Kesimpulan: Penundaan Krisis
Saat ini, elit penguasa memberikan perlindungan yang cukup kepada Pezeshkian agar MoU tetap berfungsi. Namun, ini adalah pemeliharaan taktis daripada dukungan yang tulus.
Saat kesepakatan itu runtuh sepenuhnya, perlindungan akan hilang, dan Presiden akan dianggap sebagai satu-satunya pihak yang gagal.Meskipun pengkambinghitaman mungkin untuk sementara mencegah konflik terbuka antara teknokrat dan ideolog di dalam blok penguasa, hal itu tidak menyelesaikan kontradiksi mendasar dalam strategi bertahan hidup Iran. Ketegangan antara pragmatisme ekonomi dan maksimalisme ideologis tetap ada, dan begitu kambing hitam saat ini habis, pertempuran sesungguhnya untuk masa depan Republik Islam akan dimulai.