Jepang Melanggar Tradisi Pasifis: Munculnya Badan Intelijen Terpusat Pertama di Negara Itu
Jepang sedang membangun badan intelijen terpusat pertamanya sejak Perang Dunia II untuk melawan ancaman dari China, Rusia, dan Korea Utara serta mengurangi ketergantungan pada AS.

Pergeseran Strategis dalam Keamanan Nasional
Untuk pertama kalinya sejak berakhirnya Perang Dunia II, Jepang secara fundamental merestrukturisasi pendekatannya terhadap keamanan nasional dengan membentuk badan intelijen terpusat. Setelah disahkannya undang-undang penting melalui majelis rendah dan majelis tinggi Parlemen Nasional pada bulan Mei, Tokyo beralih dari ketergantungan historisnya pada intelijen asing dan sikap pasifis yang ketat untuk membangun kemampuan spionase dalam negeri yang kuat.
Perdana Menteri Sanae Takaichi telah menggambarkan perombakan legislatif ini sebagai "langkah pertama" dalam strategi yang lebih luas untuk memodernisasi infrastruktur pertahanan Jepang. Langkah ini menandai perubahan dari era pasca-perang, di mana batasan Pasal 9 Konstitusi Jepang membatasi kemampuan negara untuk melakukan operasi intelijen proaktif.
Menguraikan Arsitektur Intelijen Baru
Kerangka kerja baru ini bukan sekadar pembaruan administratif tetapi transformasi struktural.
Reformasi ini melibatkan evolusi Kantor Intelijen dan Penelitian Kabinet (CIRO)—yang telah ada sejak tahun 1952 tetapi tidak memiliki mandat hukum yang signifikan—menjadi dua entitas yang berbeda dan kuat:- Dewan Intelijen Nasional: Badan ini akan berfungsi sebagai pusat komando utama pemerintah, yang berfokus pada analisis tingkat tinggi dan koordinasi pengumpulan intelijen untuk memastikan para pembuat kebijakan menerima data yang dapat ditindaklanjuti.
- Biro Intelijen Nasional: Sebuah badan khusus yang berfokus pada kegiatan operasional, yang dirancang untuk melaksanakan misi intelijen yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasional.
Meskipun Jepang tidak berupaya meniru CIA Amerika secara persis, pemerintah telah mencari panduan strategis dari sekutu Barat, termasuk Amerika Serikat, Jerman, dan Australia. Para ahli seperti Ken Kotani dari Universitas Nihon berpendapat bahwa model yang dihasilkan akan unik bagi Jepang, disesuaikan dengan tantangan geopolitik spesifik Asia Timur.
Pendorong Geopolitik: Mengapa Sekarang?
Urgensi di balik pembentukan badan ini didorong oleh lingkungan regional yang semakin bergejolak.
Tokyo secara eksplisit mengidentifikasi ancaman dari Korea Utara, Rusia, dan Tiongkok sebagai katalis utama untuk pergeseran ini.Secara historis, Jepang beroperasi di bawah payung keamanan yang disediakan oleh Amerika Serikat selama Perang Dingin. Namun, iklim politik di Washington telah bergeser. Pertanyaan yang sering diajukan oleh mantan Presiden Donald Trump tentang biaya aliansi dan tuntutan agar sekutu meningkatkan pengeluaran pertahanan mereka sendiri telah memaksa Tokyo untuk menyadari bahwa ketergantungan mutlak pada intelijen AS merupakan kerentanan strategis. Seperti yang dicatat oleh Profesor Kotani, Jepang secara bertahap mengejar kebijakan yang lebih independen untuk memastikan bahwa mereka dapat mengumpulkan dan menganalisis data penting secara mandiri.
Menutup Kesenjangan 'Surga Mata-mata'
Selama beberapa dekade, para profesional intelijen telah menggambarkan Jepang sebagai "surga bagi mata-mata." Karena kurangnya undang-undang anti-spionase yang komprehensif, agen asing telah beroperasi dengan relatif tanpa hukuman.
Mantan agen Rusia sebelumnya telah menceritakan bagaimana intelijen Soviet dengan mudah menargetkan rahasia industri Jepang dan pangkalan militer AS di tanah Jepang.
Sanshiro Hosaka, seorang peneliti di Pusat Pertahanan dan Keamanan Internasional, menekankan bahwa badan baru ini merupakan bagian dari kebutuhan yang lebih besar akan "undang-undang transparansi pengaruh asing." Undang-undang tersebut akan mencegah campur tangan ilegal dan mengungkap aktivitas lobi oleh aktor asing. Lebih jauh lagi, Jepang sekarang mencari dasar hukum yang diperlukan untuk melakukan operasi rahasia dan mencegat komunikasi—alat yang tidak dimilikinya selama hampir 80 tahun.
Doktrin Takaichi dan Gesekan Domestik
Pembentukan badan intelijen ini merupakan landasan ambisi keamanan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang lebih luas.
Sejak menjabat pada bulan Oktober, Takaichi telah mempercepat ekspansi militer, termasuk:- Menyetujui anggaran pertahanan sebesar $58 miliar yang memecahkan rekor.
- Mengalokasikan $600 juta untuk drone canggih dan perisai laser di wilayah barat daya.
- Bergerak menuju penghapusan larangan ekspor senjata mematikan yang telah lama berlaku.
Perubahan ini tidak lepas dari kontroversi. Kenangan akan Tokko (Polisi Tinggi Khusus) dari era perang, yang menggunakan pengawasan untuk menyiksa dan menangkap pembangkang politik, tetap menjadi luka dalam jiwa nasional. Meskipun protes anti-perang muncul pada bulan Mei, sentimen publik tampaknya bergeser. Jajak pendapat Jiji menunjukkan bahwa hanya 19% penduduk yang menentang reformasi intelijen, dengan generasi muda menunjukkan jauh lebih sedikit kekhawatiran terhadap tabu historis seputar pengawasan negara.