Angkatan Bersenjata Lebanon Memulai Uji Coba Keamanan di Desa-desa Selatan di Tengah Meningkatnya Ketegangan

Militer Lebanon memulai uji coba pengambilalihan keamanan di tiga desa di selatan sebagai bagian dari kerangka kerja yang dimediasi AS, di tengah ketegangan dan ketidakstabilan regional yang sedang berlangsung.

A
Staff Writer
Diposting pada 20/07/2026 17:53
Angkatan Bersenjata Lebanon Memulai Uji Coba Keamanan di Desa-desa Selatan di Tengah Meningkatnya Ketegangan

Militer Lebanon secara resmi telah memulai operasi keamanan 'zona percontohan' di Lebanon selatan, menandai langkah nyata pertama dalam kerangka kesepakatan yang lebih luas yang dimediasi AS yang bertujuan untuk menstabilkan wilayah perbatasan yang bergejolak antara Lebanon dan Israel. Inisiatif ini berfokus pada tiga desa tertentu: Froun, Srifa, dan Zawtar al-Gharbiya.

Mekanisme Kesepakatan

Kerangka kerja, yang diselesaikan pada 26 Juni setelah negosiasi ekstensif di Roma, membayangkan penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah pendudukan di Lebanon selatan. Setelah wilayah-wilayah ini dikosongkan, Angkatan Bersenjata Lebanon ditugaskan untuk membangun keamanan, menjaga ketertiban, dan memastikan bahwa tidak ada infrastruktur bersenjata milik Hizbullah yang tersisa di zona-zona yang dibebaskan ini. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah menekankan komitmennya untuk menyelesaikan kerangka kerja ini hingga berhasil.

Skeptisisme di Lapangan

Terlepas dari deklarasi resmi dari Washington, situasi di lapangan tetap kompleks.

Kepemimpinan lokal dan sumber keamanan telah menyatakan skeptisisme yang signifikan mengenai efektivitas transisi segera. Walikota dari kota-kota yang terdampak melaporkan tidak ada perubahan berarti dalam lanskap keamanan, dengan beberapa mencatat bahwa militer Lebanon telah mempertahankan kehadiran di daerah-daerah ini sepanjang konflik yang sedang berlangsung. Lebih lanjut, tidak ada jadwal yang jelas untuk penarikan Israel, yang terus mempersulit penyebaran logistik pasukan Lebanon.

Konteks Regional dan Krisis Kemanusiaan

Konflik yang lebih luas, yang meningkat pada bulan Maret setelah kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, telah mengakibatkan dampak kemanusiaan yang menghancurkan. Statistik dari Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon menunjukkan lebih dari 4.300 korban jiwa dan lebih dari satu juta pengungsi sejak eskalasi dimulai. Meskipun program percontohan ini dimaksudkan sebagai langkah membangun kepercayaan, program ini menghadapi penentangan keras dari Hizbullah, yang telah menolak perjanjian tersebut, dengan alasan bahwa kehadiran pasukan asing di Lebanon merupakan pelanggaran kedaulatan.

Meskipun upaya diplomatik terus berlanjut, jalan menuju penghentian permusuhan secara menyeluruh tetap rapuh dan penuh dengan ketidakpastian.

Sumber: www.aljazeera.com

Artikel Terkait