Akhir dari Kebuntuan: Mengapa Era 'Tidak Ada Perang, Tidak Ada Perdamaian' di Yaman Runtuh

Gencatan senjata yang rapuh di Yaman sedang runtuh ketika pemberontak Houthi dan pemerintah yang diakui memobilisasi diri untuk perang. Jelajahi ketegangan regional dan risiko kemanusiaan.

A
Staff Writer
Diposting pada 14/07/2026 23:56
Akhir dari Kebuntuan: Mengapa Era 'Tidak Ada Perang, Tidak Ada Perdamaian' di Yaman Runtuh

Kedamaian Rapuh di Ambang Kehancuran

Selama bertahun-tahun, Yaman telah berada dalam keadaan geopolitik yang tidak menentu—keadaan 'tidak ada perang, tidak ada perdamaian.' Sejak gencatan senjata yang rapuh disepakati pada tahun 2022, konflik dahsyat antara pemberontak Houthi dan pemerintah yang diakui secara internasional sebagian besar tetap membeku. Namun, peningkatan ketegangan baru-baru ini pada Juli 2026 menunjukkan bahwa stabilitas yang rapuh ini sedang hancur, mengancam untuk menjerumuskan negara termiskin di Timur Tengah ini kembali ke dalam bencana kemanusiaan skala penuh.

Penyebab volatilitas baru-baru ini dimulai pada akhir Juni, ketika kelompok Houthi dan pemerintah Yaman mulai memobilisasi para pejuang. Ketegangan mencapai titik puncaknya pada 3 Juli, ketika penerbangan pertama yang diumumkan secara publik antara Teheran dan Sanaa dalam lebih dari satu dekade mendarat di ibu kota yang dikuasai Houthi. Langkah simbolis ini, yang menandakan penguatan ikatan antara Iran dan Houthi, memicu pembalasan segera.

Dalam beberapa hari, pertempuran di provinsi Hodeidah menewaskan puluhan orang, menandai kekerasan paling parah yang pernah terjadi di wilayah tersebut dalam empat tahun terakhir.

Titik Kritis Bandara dan Dampak Regional

Situasi semakin memburuk pada hari Senin ketika pemerintah Yaman melancarkan serangan udara yang menargetkan landasan pacu di Bandara Internasional Sanaa. Pemerintah mengklaim tindakan tersebut diperlukan untuk mencegah pesawat Iran lainnya mendarat, dengan menyatakan bahwa 'kesabaran mereka telah habis.' Sebagai respons cepat, Houthi menembakkan rudal balistik ke arah Arab Saudi dan mengancam 'pengepungan' total wilayah Saudi.

Para analis berpendapat bahwa konflik di Yaman bukan lagi perang saudara yang terisolasi, tetapi semakin menjadi arena bagi perjuangan regional yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran. Ketika Iran terlibat dalam gesekan militer langsung dengan AS dan serangan di Teluk, Houthi berperan sebagai sayap selatan yang penting.

Dengan mengganggu lalu lintas maritim di Laut Merah dan mengancam negara-negara Teluk, Houthi mengerahkan pengaruh signifikan atas keamanan energi global dan stabilitas regional.

Manuver Politik dan Tekanan Internal

Menurut Salah Ali Salah dari Pusat Studi Strategis Sanaa, retorika Houthi dirancang untuk mempersiapkan penduduk domestik untuk kembali berperang. Selama masa tenang relatif sejak 2022, Houthi semakin kesulitan untuk membenarkan kesulitan ekonomi dan kelaparan yang parah yang dihadapi konstituen mereka. Dengan mendefinisikan kembali 'musuh baru'—khususnya Arab Saudi dan pemerintah Yaman—kelompok tersebut dapat mengalihkan narasi dari kegagalan ekonomi internal ke agresi eksternal.

Sementara itu, pemerintah yang diakui secara internasional telah mengkonsolidasikan kekuasaan di Yaman timur dan selatan setelah kekalahan Dewan Transisi Selatan akhir tahun lalu.

Penyatuan pasukan anti-Houthi ini telah mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan serangan militer untuk merebut kembali ibu kota, terutama jika mereka percaya bahwa kebuntuan diplomatik saat ini tidak dapat diatasi.

Biaya Kemanusiaan dari Konflik yang Kembali Berkobar

Prospek peperangan yang kembali berkobar sangat menakutkan bagi penduduk yang sudah hancur akibat perselisihan selama satu dekade. Menurut laporan PBB, sekitar 18,3 juta orang di Yaman menghadapi kerawanan pangan akut, dan lebih dari 2,2 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami kekurangan gizi parah. Dengan PDB per kapita yang anjlok sebesar 58% sejak awal perang, hanya sedikit ketahanan yang tersisa dalam tatanan sosial.

Bagi banyak warga Yaman, kebuntuan 'tidak ada perang, tidak ada perdamaian' telah menjadi semacam siksaan tersendiri—keadaan ketidakpastian yang berkepanjangan.

Beberapa warga sipil, yang lelah dengan ketidakpastian ini, telah menyatakan keinginan putus asa untuk mendapatkan kesimpulan yang pasti, terlepas dari siapa yang keluar sebagai pemenang, asalkan pemenang tersebut segera bertanggung jawab untuk menstabilkan ekonomi dan memulihkan layanan dasar.

Kesimpulan: Badai yang Mengancam

Dengan kepercayaan antara pihak-pihak yang bertikai berada pada titik terendah sepanjang masa dan peta jalan perdamaian yang dipimpin PBB tetap tidak terlaksana, jalan menuju penyelesaian politik semakin menyempit. Ketika juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan 'fase de-eskalasi' telah berakhir, dunia mengamati dengan cemas. Jika diplomasi gagal sekarang, Yaman mungkin tidak hanya kembali berperang tetapi juga dapat menjadi pusat dari konflik regional yang jauh lebih besar.

Sumber: www.aljazeera.com

Artikel Terkait